Friday, May 16, 2008

DPR Ke Argentina, GOLKAR Nggak Ikut...

12 anggota DPR dari Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Pemilihan Presiden (Pansus RUU Pilpres) membawa serta istri atau suami mereka dalam kunjungan kerja ke Argentina, sejak Senin (12/5) hingga Selasa (20/5).

Agenda resmi Pansus RUU Pilpres hanya dua hari dari total sembilan hari. Agenda resmi hanya bertemu dengan parlemen, Camara Nacional Electoral semacam KPU-nya Argentina dan Lembaga Penyelesaian Konflik Pemilu atau Electoral Management Body.


Selain acara resmi, rombongan banyak bertamasya, yang di dalam jadwal dituliskan sightseeing City Tour. Misalnya, tamasya ke Delta Tigre, Provinsi Buenos Aires, Argentina, dan mengunjungi Colon Theatre. Lalu ke 9th Juli Avenue, Obalisk, Metropolitan Cathedral, Cabildo. Kemudian terbang ke Brasil dan menginap di Novotel Jeregua untuk menjelajah Kota Sao Paolo. Barulah rombongan tinggal landas menuju Dubai, Uni Emirat Arab. Dari sana sebagian melanjutkan umroh dan sebagian lagi ke tanah air.

Ada 12 orang anggota DPR masing-masing mendapat uang saku sebesar 500 dollar AS/ hari atau setara Rp 4,6 juta. Total per hari menghabiskan uang negara 6.000 dollar per hari atau 48 ribu dollar atau senilai Rp 441 juta dalam delapan hari. Tidak termasuk biaya untuk 10 orang staf.

Anggota DPR yang berangkat studi banding ke Argentina pada masa persidangan IV Tahun Sidang 2007-2008 mewakili semua fraksi di DPR, kecuali Partai GOLKAR dan Demokrat. Jumlah rombongan yang berangkat 27 orang, dengan rincian 12 anggota DPR, dua istri anggota DPR, satu suami anggota DPR, 12 staf dan seorang istri staf.


Berikut nama-nama lengkap rombongan DPR yang berangkat ke Argentina minus Fraksi Partai GOLKAR yang tidak ikut:

1. Yasonna Hamonangan Laoly (PDIP)

2. Tumbu Saraswati (PDIP)

3. Jacobus Mayongpadang (PDIP)
4.
Emmy Rerung Rante (istri Jacobus Mayongpadang)
5. Andi Yuliani Paris (PAN)
6. Hasril Azwar (PPP)
7. Nani Muliani (istri Hasril Azwar)
8. Patrialis Akbar (PAN)
9. Putra Jaya (PAN)
10. Saifullah Mas'hum (PKB)
11. Badriyah Fayumi (PKB)
12. Abu Bakar (suami Badriyah Fayumi)
13. Al Muzammil Yusuf (PKS)

14. Ahmad Jazuli Juwaini (PKS)
15. Saut Marasal Hasibuan (PDS)
16. Rahmat Budiaji (staf)
17. Andie Widianto (staf)
18. Novianto Murti Hartono (staf)
19. Sudarsono (staf)
20. Evi Adiningrum (istri Sudarsono)
21. Jajang Abdullah (staf)
22. Karim Mustari (staf)
23. Robert Simbolon (staf)
24. Suwarno Putra Raharjo (staf)
25. Gunawan Suswantoro (staf)
26. Agung Mulyana Saleh (staf)
27. Desmalili Mariati (staf)

2 comments:

lumpia said...

Democrazy... gak peduli rakyat susah, yang penting jalan-jalan ke luar negeri pake duit negara, bawa istri/suami.

Gak tua, gak muda. Gak laki, gak perempuan. Gak peduli partai Islam atau partai Nasionalis. Gak peduli partai Pemerintah atau opsisi. Apa sih yang bisa di-studi banding? Bikin undang-undang saja lama, tidur di ruang sidang, kok jauh-jauh studi banding ke LN. Kata Thukul ini namanya katrok bin ndeso.. alias "kere munggah bale".

Namanya oknum, ya oknum... Jangan pilih lagi, bung! Hidup rakyat!

Nayla said...

Kok yang dari PDIP sama PKS di-bold, sirik yach...

Tp thanks info ini menarik, selama ini kirain partai paling "peduli" dan "bersih" gak mau ikut-ikutan yang beginian... Eeeehh tahunya sami mawon.

Setuju jangan pilih lagi! Catet tuh nama-namanya... Kalo yang dulu-dulu punya nggak?

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails