Thursday, May 8, 2008

Rangkul Islam, PDIP Lip Service atau Carmuk?

PDIP tidak bosan-bosan untuk merangkul umat Islam. Setelah dulu sempat menggandeng Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi sebagai cawapres mendampingi Megawati, kini PDIP lewat Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) berusaha meraih dukungan dua ormas Islam terbesar yaitu NU dan Muhammadiyah. Bukti, bahwa partai ini masih mendikotomi antara nasionalis dan Islam.

Entah benar-benar ingin tampil Islami atau sekedar cari muka kepada umat Islam, dalam perayaan ultah Bamusi Ke-1 Rabu, 7 Mei 2008 kemarin, Sekjen PDIP Pramono Anung menyebutkan bahwa (lagi-lagi) Cawapres Megawati akan berasal dari kalangan Islam. Disebutnya, Megawati harus punya Wapres yang wajahnya memberi kesejukan, berasal dari kalangan Islam dan dapat membantu menambah suara bagi PDIP maupun Megawati.

Meskipun baru akan dibahas dalam Rakernas PDIP di Makassar nanti, namun beberapa nama sudah muncul sebagai jago mendampingi Megawati, seperti Dien Syamsuddin, KH. Hasyim Muzadi, Ahmad Soemargono dan Akbar Tandjung.

1 comment:

lumpia said...

PDIP di tangan Sekjen Pramono Anung memang dinamis luar biasa. Pram, masih muda, jebolan ITB, aktivis tulen, politisi lihay... Tidak heran jika suara PDIP disurvei-survei terkini diprediksi akan naik signifikan.

Citra sebagai partai yang rajin menjual BUMN di era Mega dan "rakus" seperti pepatah Jawa "kere munggah bale" sudah hilang. Positioning sebagai partai oposisi sejak 2004 sangat mendongkrak simpati kaum muda yang haus perubahan, apalagi dengan merangkul tokoh-tokoh muda semacam Budiman Sujatmiko, Ribka Ciptaning, Rieke Diah, dll.

Kalo dilihat sepak-terjangnya, strategi menjadi 'partai tengah' yang sangat pelangi, dari golongan kiri (anak-anak eks PKI) hingga golongan kanan (dibentuklah Baitul Mukminin). Semua demi suara. Kayak iklan Samsung "everybody invited", banyak tamu datang, termasuk yang tak diundang. Yang tidak puas tentu saja penghuni asli rumah, kaum Marhaen, sebagian sudah dan akan lebh banyak yang lari ke partai-partai pecahan PDIP.

Kebayang nggak rasanya di dalam PDIP? Apa puas tuh, intelektual kiri cuma jadi tamu? Dalam 5 tahun ke depan PDIP akan semakin ke kiri. Bisa-bisa PDIP akan jadi "rumah siput" bagi kaum ekstrem kiri di abad 21. Yang tadinya cuma taktik meraih suara di 2009, bisa-bisa malah akan memetik kehancuran di kemudian hari.

Yah.. kita lihat saja nanti...

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails